Monday, January 10, 2005

Pemikiran Saint Thomas Aquinas

Tugas Pem Pol Barat
Pra-Kata
“...Manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan hewan...dari segi kemampuan melakukan penilaian dan kesanggupan memperkirakan keuntungan dan kerugian [dari suatu perbuatan]... itu sejalan dengan sifat dasar manusia untuk senantiasa mengikuti nilai-nilai kebenaran; tidak tersesatkan oleh ketakutan atau godaan kenikmatan sesaat, atau pun terpengaruh oleh dorongan tak beralasan dan tak masuk akal”.
[Hugo de Groot, On the Law of War and Peace, William Whewell D.D. pentj, hal 3.]

“Pandangan hidup yang rasional menjadi dasar pandangan yang dari situ memungkinkan membuat setiap penilaian”.
[John Rawls, A Theory of Justice, Oxford: Oxford University Press, 1971, hal 409.]

“Mencari pemahaman tentang pandangan dunia yang rasional yang dapat mengatur urusan manusia bukanlah perkara mudah. Beberapa pemikir Barat telah menjelaskan secara terperinci konsepsi mereka tentang ‘kehidupan yang baik’ [good life] dibangun di atas landasan rasional yang lazim dikenal sebagai ‘Hukum Alam’ [Natural Law], dan kerja intelektual mereka patut untuk dianalisis. Demikian pula, terlepas dari adanya salah gagas [misconception] yang terjadi, sebenarnya hal yang sama juga ditawarkan Islam kepada manusia: sebuah gaya hidup yang dibangun di atas keyakinan yang pasti dan rasional, yang memberi manusia suatu arahan dalam kehidupan dan memberikan manusia suatu arahan dalam kehidupan dan memberikan solusi-solusi praktis bagi setiap permasalahannya. Islam jauh lebih baik ketimbang agama-agama lain yang hanya mengurusi maslaah ‘spiritual’. Islam mampu tampil menandingi setiap ideologi ‘duniawi’ yang menaruh perhatian terhadap urusan-urusan kehidupan umat manusia di dunia ini”.
[Abdullah, Siapakah Yang Layak Sebagai Pembuat Hukum?, Bogor : Pustaka Thoriqul Izzah ,2003, hal 6 –pent. M. Ramdhan Adhi]

Kata Pengantar
Aslim Taslam,
Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin, Segala Puji dan Syukur kami panjatkan hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai ujian, cobaan, dan kemudahan dalam menyelesaikan tugas akhir semester mata kuliah Pemikiran Politik Barat ini. Tak lupa, rasa terima kasih yang sangat kami ucapkan pada Dosen Pengajar Mata Kuliah Pemikiran Politik Barat yang telah menstimuli kami untuk mencari lebih dalam sumber-sumber pemikiran yang ada.
Teriring pula dengan terima kasih yang tak terhingga kepada kawan-kawan seperjuangan yang telah menjadi aktor khusus dalam kehidupan saya. Kepada keluarga yang telah membantu biaya pendidikan dan penghidupan, serta memberikan berbagai rintangan dan cobaan pada diri kami. Kepada kawan-kawan No Compromise magz dan Liberation Youth serta para anggota mailing listnya yang telah membanting seluruh sudut tubuh dan kepala kami dengan pemikiran filsafat. Kepada kawan-kawan OpenMind magz yang telah mencontohkan kepada saya arti perjuangan, kerja keras dan kreatifitas.
Kepada kawan-kawan salafiyyun di Malang, Batu, dan London yang telah menegakkan tubuh saya, meluruskan akal saya, dan menyaringkan hadist-hadist Kanjeng Rasul saw, sehingga dapat memukul kembali pemikiran filsafat yang salah. Kepada kawan-kawan Hizbut Tahrir di Indonesia, Pakistan, Australia, London, yang tidak hanya menjadi tongkat bagi saya untuk menghantam kembali pemikiran filsafat, tetapi juga memberikan semen, batu dan cerok untuk membangun pondasi yang kuat bagi rumah pemikiran yang saya bangun. Kepada kawan-kawan Hizbut Tahrir Palestina, Iraq dan Uzbekistan yang juga telah mengajarkan arti kehidupan, perjuangannya, kepuasan intelektual, dan solusi praktis yang tidak pernah terbayangkan selama ini.
Sedangkan mengenai tulisan ini sendiri, Thomas Aquinas dipilih bukan tanpa perhitungan. Ia adalah peletak pondasi bagi pemikiran politik zaman Pencerahan. Dengan menengok lebih ke belakang ketimbang pemikiran Descartes, Spinoza, Locke, Hobbes, Hume, Finnis, Berkeley, diharapkan konteks sosio-historis Barat zaman Pertengahan dapat digunakan untuk merangkum dan menganalisa pemikiran tadi.
Karya ini memang tidak bisa lepas dari cacat dan kelemahan, layaknya kami sebagai makhluk yang dikenal sebagai manusia. Oleh karenanya, kami sungguh berharap ada feedback yang datang, ataupun sekedar singgah ke kami. Semoga tugas akhir ini tidak hanya membantu pembaca untuk memahami pun juga berempati terhadap pemikiran politik dan teologis masyarakat Barat. Tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi penulis untuk sekedar mendapat ke-RidhoanNya. Amin.
Penulis
Daftar Isi


Pra Kata .......................................................................................................... 02
Kata Pengantar ................................................................................................ 03
Daftar Isi ....................................................................................................... 04
Pendahuluan .................................................................................................. 05
Riwayat Kehidupan ........................................................................ 05
Tokoh-tokoh yang Mempengaruhi ......................................................... 06
Karya-karyanya ................................................................................ 06
Intisari Filsafat Politik Aquinas .................................................................... 08
Karya Hukum Aquinas ................................................................................. 10
Hukum Secara Umum ................................................................................... 12
Macam-macam Hukum ...................................................................... 13
Hukum Abadi ....................................................................... ........................ 14
Hukum Alam Secara Umum ........................................................................ 15
Prinsip Otoritas Hukum Alam ........................................................... 15
Memahami Hukum Alam – Syndersis .............................................. 16
Hukum Manusia ............................................................................................ 19
Hubungan Hukum Alam dan Hukum Manusia ............................................. 23
Hukum Tuhan ............................................................................................... 25
Kesimpulan .................................................................................................... 26
Daftar Bacaan ................................................................................................ 27












Saint Thomas Aquinas
[1225-1274]
Pendahuluan
Riwayat Kehidupan
Saint Thomas Aquinas, lahir di Roccasecca, sebuah kota di Kerajaan kuno Sicily, Italia. Kebanyakan literatur menyebutkan tahun kelahirannya pada tahun 1225 Masehi. Lahir dari orang tua yang aristokrat, pada usianya yang ke-5 mereka menempatkan Aquinas di Biara Benedictine di Monte Cassino. Beberapa tahun kemudian ia masuk Universitas Naples dimana ia memulai kontaknya dengan para anggota ordo / sekte Dominikan. Di Naples, ia memperdalam diri dengan mempelajari teologi dan filsafat. Kemudian pada tahun 1244, di usia yang baru 19 tahun, ia menjadi biarawan [ciri khas Kristen Katolik Roma] Dominikan walaupun harus dibayar dengan pertentangan yang sengit dari keluarganya.
Sejak tahun 1245 hingga 1252 ia belajar dibawah bimbingan filosof Skolastik Jerman, Albertus Magnus di kota Kohl. Aquinas ditahbiskan sebagai pendeta sekitar tahun 1250, dan ia mulai mengajar di Universitas Paris pada tahun 1252. Di Paris ia bermukim dan menyelesaikan Stadium General Dominikan-nya. Di Kohl dan Paris inilah ia banyak bergelut dengan pemikiran Aristoteles dan memberikan banyak komentar atasnya. Memang baru pada tahun-tahun itulah tulisan Aristoteles dan guru-gurunya mulai diterjemahkan dalam Bahasa Latin oleh ilmuwan Arab[1].
Pada tahun 1256, Aquinas mendapatkan gelar doktoral teologi dan dijadikan Professor Filsafat di Universitas Paris. Paus Alexander IV [berkuasa 1254-1261] memerintahkannya untuk pergi ke Roma di tahun 1259, dimana ia bertindak sebagai penasihat dan pengajar di the Papal Court [Majelis Paus]. Pada tahun 1268 ia kembali ke Paris, dan dalam waktu yang singkat ia telah terlibat dalam sebuah kontroversi dengan Filosof Perancis, Siger de Brabant dan para pengikut Filosof Muslim, Ibn Rushdi [Averroës]. Pada tahun 1274 Thomas Aquinas jatuh sakit dan akhirnya meninggal di wilayah Fossanova, tepatnya di Biara Cistercian, pada tanggal 7 Maret.
Pernah suatu ketika, oleh kawan-kawannya, Aquinas diberikan nama panggilan ‘Dumb Ox’ disebabkan tubuh Aquinas yang besar akan tetapi sangatlah pendiam walaupun terlihat cerdas dan berwibawa. Dan Albertus Magnus pernah meramalkan bahwa “Ox [banteng] itu suatu hari nanti akan memenuhi dunia dengan lenguhannya”. Dan terbukti, dia dikenal dalam kalangan cendekiawan sebagai Angelic Doctor atau juga Pangeran Skolastik.
Tokoh-tokoh yang mempengaruhi
Aquinas selain banyak dipengaruhi Guru dan kawan-kawannya ketika masih muda [utamanya Albertus Magnus], dalam karya pemikirannya, ia banyak sekali terpengaruh tulisan dan pemikiran Aristoteles, kemudian juga Aristotelian Muslim, Ibnu Rushdi [Averroës], dan juga filosof Yahudi, Maimonides. Tidak seperti kebanyakan Teolog Kristen Katholik lainnya, ia-lah yang menerima argumen dari seluruh karya Aristoteles yang diterjemahkan dalam bahasa latin oleh orang-orang Islam. Aquinas tidak sekedar bermaksud memadukan argumen filsafat Aristoteles dalam kerangka pemikiran Teologi Kristen yang ada, akan tetapi membawa pemahaman Aristoteles pada tingkat yang lebih dalam. Sebagai contoh, ia menekankan pembedaan antara potensialitas dan aktualitas, dan juga membela mati-matian doktrin keabadian di dunia lain [akhirat] tanpa harus menghancurkan doktrin lain yang menyatakan bahwa jiwa itu terkurung dalam tubuh.
Karya – karyanya
Tulisan pertamanya muncul pada tahun 1254, kebanyakan berupa ikhtisar / ringkasan dan amplifikasi dari pengajarnya. Karya besar pertamanya berjudul Scripta Super Libros Sententiarum [Writings on the Books of the Sentences] terbit pada tahun 1256, yang berisi komentar-komentarnya atas karya besar seorang Teolog Italia, Peter Lombard, yang berjudul Sententiarum Libri Quatuor [Four Books of Sentences] yang memuat penyucian dan kesucian gereja [the sacraments of the church].
Aquinas mengembangkan sebuah sintesis dari doktrin Kristen dan Filsafat Aristoteles yang kemudian menjadi doktrin resmi dari Teologi Katolik Roma pada tahun 1879. Buku De Ente et Essentia [On Being and Essence] termasuk statement dasar dari posisi metafisik Aquinas. Ia telah menuliskan banyak sekali komentar atas proyek filsafat Aristoteles dan juga sebuah paduan Kristen Katholik yang sangat komprehensif, Summa de Veritate Catholicae Fidei contra Gentiles [Summa Contra Gentiles] yang dikerjakannya sejak tahun 1259 dan baru selesai pada tahun 1264. Aquinas juga menuliskan karya politik, dan hukum yang terangkum dalam sebuah kesatuan sistem filsafat, Summa Teologiea, buku yang dituliskannya semenjak tahun 1265 ini berhenti pada tahun 1273, dan hingga akhir hayatnya [1274] belum terselesaikan.
Aktivitas literalnya berhenti secara tiba-tiba disebabkan ‘pengalaman religius’ yang ia alami beberapa bulan sebelum kematiannya. Dalam membahas Hukum, Aquinas menuangkan seluruh pemikirannya pada Summa Teologiea. Buku-Buku Summa ini dituliskan dengan model Medieval yang asing bagi para pembaca modern, dimana ia menanyakan sesuatu, membuat objeksi, dan balasan atas objeksi[2]. Akan tetapi ada sebuah tips yang manjur digunakan untuk memahami pemikirannya, yaitu ketika Aquinas menggunakan kata ‘Saya menjawabnya...’ [“I answer that...”]. Itulah posisi yang diambil oleh Aquinas atas pertanyaan yang ia buat sendiri.






Intisari Filsafat Politik Aquinas
Diantara pemikir Kristen yang lahir di Barat, Thomas Aquinas dianggap sebagai peletak dasar tradisi Hukum Alam yang berdasarkan pada ajaran Kristen. Abad pertengahan di Eropa ditandai dengan konflik filosofis yang sengit antara pemikiran Aristotelian yang terkandung dalam karyanya yang baru diterjemahkan, dan pemikiran tradisional Kristen. Karya Aristoteles, Ethics and Politics, menyajikan pandangan paganisme Yunani yang bertentangan dengan tradisi Kristen Ortodoks dari Augustine. Konflik yang terjadi adalah antara pandangan pesimistik Kristen yang melihat manusia sebagai makhluk yang mengalami kejatuhan dari surga, yang dimulai dengan jatuhnya Adam as., dengan pandangan optimistik Yunani klasik yang melihat manusia sebagai rival bagi para dewa, yang mampu merealisasikan keinginannya dengan usahanya sendiri.
Pertanyaan paling filsafati tentang Filsafat Politik adalah “Rezim / Pemerintahan sekaligus Negara apakah yang terbaik?”[3] Secara tradisional Kristen memandang Negara Duniawi sebagai hasil dari dan dibangun di atas kebobrokan moral. Aristoteles menawarkan “sebuah konsepsi baru tentang negara sebagai pencapaian tertinggi manusia yang dapat membuat tahapan transformasi dari Negara Iblis / Duniawi menjadi Negara Tuhan”[4][D’Entreves, hal x.]. Doktrin baru dan asing ini, yang dianggap subversif terhadap ortodoksi Kristen dan khususnya otoritas Gereja Paus, perlu ditegaskan dan diekspos secara intelektual. Ajaran Kristen membutuhkan seorang pejuang untuk membelanya[5]. Aquinas tampil ke depan sebagai pembela, dan usaha intelektualnya menghasilkan menghasilkan garis-garis besar pertama tentang serangkaian prinsip-prinsip yang sempurna dan abadi yang menjadi landasan kehidupan yang baik berdasarkan ajaran dan nilai-nilai Kristiani.
Kelihatannya, bukannya memberi kita sistem yang sempurna dan rinci, [Aquinas] justru menyajikan prinsip-prinsip yang dapat membangun sistem yang sempurna dan rinci itu. Yang penting adalah bahwa prinsip-prinsip itu tidak boleh dikhianati. Adapun seluruh sisanya adalah tugas para pembuat hukum yang ‘bijaksana’. [D’Entreves, hal xxxii].
Santo Augustine telah memberikan gambaran yang sangat gelap tentang Negara Iblis/Duniawi ini sebagai kejatuhan “Negara Iblis/Duniawi”, dimana sifat buruk, kejahatan dan penindasan sedemikian merajalela, dan satu-satunya harapan manusia terletak pada keyakinan dan penyelamatan dosa yang adanya di Negara Tuhan[6]. Kini, sebagai titik tolak baru bagi pemikiran Kristiani dan dengan dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles, Aquinas melihat dunia sebagai “bagian dari Kerajaaan Dunia di mana Tuhan berkedudukan sebagai Pencipta dan Penguasa [maker and ruler]”, yang mana “Hukum-hukumnya dibuat sebagai ketetapan khusus dari kitab undang-undang Hukum Abadi Kerajaan ini” [Bingongiari, hal vii]. Dengan demikian negara dapat digunakan sebagai sarana untuk membawa manusia memperoleh Rahmat Tuhan. Sebagai revolusi besar terjadi dalam jaran Kristiani pada saat itu.
Perlu diingat bahwa Injil sendiri telah memberikan pembagian yang sangat jelas antara kekuasaan spiritual dan duniawi. Dikisahkan bahwa Rasul pernah berkata : “Berikanlah kepada Tuhan segala apa yang menjadi Hak Tuhan, dan berikan kepada Kaisar segala apa yang menjadi hak Kaisar” [Matius : 22]. Berdasarkan ayat ini dan pengalaman sejarah Kekaisaran Romawi yang menganut Paganisme, para Bapa Kristen periode awal menjauhkan diri dari urusan-urusan politik keduniawian dan berkonsentrasi pada urusan-urusan spiritual agama Kristen. Bahkan setelah Kaisar Konstantinus naik ke tampuk kekuasaan dan menjadi kemenangan bagi ajaran Kristiani dengan diadopsinya Kristen sebagai agama resmi negara Romawi, tetap saja ada ketegangan antara kekuasaan spiritual Paus sebagai pemimpin Gereja terhadap rakyat dan kekuasaan duniawi langsung dari Kaisar. Gereja tidak diajak berkonsultasi, dan memang dirasa tidak perlu, tentang perundang-undangan politik dan peraturan untuk menjalankan urusan-urusan manusia di dunia.
Keadaan ini bisa berlangsung karena memang ada teladan yang seperti itu, yaitu bahwa Rasul Kristiani tidak memposisikan dirinya sebagai pemimpin politik terhadap murid dan pengikutnya. Tetapi pemikiran filsafat Thomas Aquinas membawa interpretasi baru terhadap ajaran Kristiani untuk melihat bahwa ajaran Kristiani, ketika diinterpretasikan dengan sebagian pemikiran Yunani awal, memiliki landasan tentang sistem kehidupan yang menyeluruh[7]. Sejak itulah, tampaknya Kaisar dapat menjadi seorang Kristiani yang tulus yang menerapkan nilai-nilai Kristiani dalam urusan politik manusia. Dengan demikian, konsepsi Thomas Aquinas itu memungkinkan “Seorang Kristiani yang baik menjadi warga negara yang baik pula” [D’Entreves, hal ix.].






Karya Hukum Aquinas
Secara umum dan juga mendetail, Aquinas menuangkan pemikirannya tentang politik, etika, hukum, dan keadilan dalam buku Summa Teologiea [Inggris : Summa Teologica]. Berbeda dengan Summa Contra Gentiles yang membahas bagaimana membuktikan keberadaan Pencipta [theology], dan aqidah Kristen lainnya, di buku inilah ia memaparkan pemikiran politiknya yang merupakan perpaduan, akal manusia, pewahyuan dan sekaligus Cinta kasih Tuhan.
Secara khusus, akan didapatkan pembahasan mengenai hukum pada pertanyaan nomor 90 sampai 114, yang garis besarnya mengenai:
(90) Esensi Hukum
(91) Macam-macam Hukum
(92) Efek Hukum
(93) Hukum Abadi
(94) Hukum Alam[iah]
(95) Hukum Manusia
(96) Kekuatan Hukum Manusia
(97) Perubahan Hukum
(98) Hukum Lama
(99) Aturan-aturan Hukum Lama
(100) Aturan-aturan Moral dalam Hukum Lama
(101) Aturan-aturan Seremonial dalam Hukum Lama
(102) Sebab-sebab aturan seremonial
(103) Durasi aturan seremonial
(104) Aturan-aturan keadilan dan pengadilan
(105) Argumen bagi aturan-aturan keadilan
(106) Hukum Gospel, yaitu Hukum Baru
(107) Perbandingan Hukum Baru dan Hukum Lama
(108) Aturan-aturan Hukum Lama yang terdapat pada Hukum Baru
(109) Kebutuhan atas Kasih [Tuhan] / Grace
(110) Esensi dari Kasih Tuhan
(111) Macam-macam bagian dari Kasih Tuhan
(112) Penyebab Kasih Tuhan
(113) Akibat dari Kasih Tuhan
(114) Pahala [8].
Akan tetapi, teologi Aquinas bukan tanpa cacat dan kritik. Bahkan, pem-bid’ah-an dilayangkan pada dirinya. Terutama yang berkaitan dengan peran akal, hati nurani, dan synderesis dalam memahami Agama Kristen, dus filsafat hukumnya[9].
Hukum secara Umum
Aquinas menjelaskan hukum sebagai “sebuah aturan dan ukuran yang pasti mengenai tingkah laku dan tindakan-tindakan dimana manusia [dengan diterapkannya aturan dan ukuran tersebut –pen] terdorong untuk melakukan sebuah tindakan atau terhalangi dari tindakan yang lain.” [quaedam rationis ordinatio ad bonum commune, ab eo qui curam communitatis habet, promulgata] [q90, a1].
Di antara persoalan penting yang digagas Aquinas dalam karyanya itu ialah adanya ikatan tak terpisahkan antara hukum dan akal. Pertanyaan 90 Bagian I-II dari buku tersebut secara eksplisit berbicara tentang definisi esensi hukum, dan juga menentukan hubungan timbal-balik antara hukum dan akal. Poin penting yang dibuat Aquinas adalah bahwa perintah dan larangan dari hukum itu diserahkan oleh akal. “Aturan dan ukuran seluruh perbuatan manusia adalah akal, yang dengan akallah tindaannya diarahkan ke tujuan akhirnya; hal ini merupakan prinsip pertama dalam seluruh filsafat perbuatan” [q90, a1]. Dengan demikian, akallah yang setelah memahami tujuan dari perbuatan manusia, akan memilih tindakan yang tepat sesuai dengan tujuannya.
Inilah poin krusialnya, karena apabila akal mengarahkan tujuan akhir, maka hal itu berarti akal terkait dengan dan tidak bisa dipisahkan dari hukum sebagai faktor utama yang membuat hukum ada. Sekarang, karena “prinsip dalam setiap genus ialah aturan dan ukura dari genus tersebut”, maka “itu berarti hukum adalah sesuatu yang berhubungan dengan akal” [q90, a1]. Jelas, Aquinas memiliki pendirian yang tegas dan lugas terhadap prinsip bahwa hukum adalah sesuatu yang berhubungan dengan akal [law is something pertaining to reason].
Aquinas menjelaskan bahwa akal yang utama adalah akal wahyu [Akal Tuhan / Divine Reason], yang kedua adalah akal manusia [Human Reason]. Akal manusia ini dianggap eksis dan benar jikalau ia bertindak dengan memperhatikan tujuan / final cause yang ingin dicapai / diaplikasikan oleh Tuhan sendiri.
Hukum, secara alami ditujukan untuk kebaikan, dan terutama kebaikan universal atau kebaikan umum[q90, a3]. Ia tidak ditujukan semata pada pribadi secara perseorangan tetapi pada seluruh masyarakat yang memiliki persamaan atau pada pribadi-pribadi yang memikul tanggung jawab atas sebuah komunitas secara keseluruhan.
Promulgasi [Pengumuman / Penyebarluasan Hukum], sangatlah esensial bagi kelamiahan hukum. Hukum alamiah menurut Aquinas diumumkan dan disebarkan oleh Tuhan : “ Tuhan telah menanamkan dalam pikiran-pikiran manusia agar Ia dikenal oleh mereka secara alamiah.” Wahyu dan hukum-hukum manusia dapat disebarluaskan melalui kata-kata dari mulut, bahkan, lebih baik lagi dengan tulisan.
Macam-macam Hukum
Hukum Alamiah
Hukum Abadi
Hukum Manusia
Hukum Tuhan
Pewahyuan / RevelationAquinas mengenali adanya 4 macam hukum: abadi [the eternal], alamiah [the natural], manusia [the human], dan Tuhan [the divine]. Hukum alamiah, manusia dan Tuhan bergantung pada hukum yang pertama, tetapi dalam cara yang berbeda-beda. Jika kita membuat bagan hirarkis diantara mereka, hukum abadi akan menempati posisi puncak, kemudian diikui hukum alamiah, baru kemudian dibawahnya ada hukum manusia. Hukum Tuhan tidak bersitegang dengan hukum alamiah, akan tetapi ia didapat manusia dengan rute yang berbeda, wahyu.






Hukum Abadi
Hukum Abadi identik dengan pemikiran ‘Tuhan’, sebagaimana dilihat oleh Tuhan itu sendiri. Ia dapat disebut sebagai hukum karena Tuhan berdiri tegak dalam alam semesta yang ia ciptakan sendiri dan berperan sebagai penguasa yang menerapkan aturan terhadap komunitas yang ia pimpin. “dunia diatur oleh pemeliharaan Ilahi dengan Tuhan sebagai Pengatur Alam Semesta” [q90, a1]. Tuhan mengatur, “masyarakat alam semesta secara keseluruhan” dan “pengaturan segala sesuatu ini, memilihi sifat hukum”, yaitu Hukum Abadi [op.cit].
Hukum yang abadi dan bersifat Ilahiyah ini berkaitan langsung dengan akal, karena Aquinas menyatakan bahwa, “masyarakat alam semesta secara keseluruhan diatur oleh Akal Tuhan” [op.cit]. Aquinas tidak mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Akal Tuhan, dan bagaimana Akal Tuhan ini, jika memang ada, berbeda dengan akal manusia. Satu perbedaannya yang sudah pasti ialah bahwa “konsep Akal Tuhan tidak tunduk pada waktu tetapi bersifat abadi” [op.cit].
Bahkan definisi dari Aquinas bahwa hukum tidak lain dan tidak bukan adlaah perintah dari akal praktis yang muncul dari penguasa yang memerintah masyarakat, dalam hal ini menjadi Akal Tuhan yang muncul dari Penguasa Ilahi yang memerintah alam semesta yang sempurna. Penitikberatan pada keterkaitan hukum dengan akal membuat Aquinas mengutip pernyataan Augustine, “Bahwa hukum [Tuhan] yang menjadi Akal Tertinggi adalah tetap dan abadi” [op.cit].
Nah, ketika akal Tuhan disadari manusia sebagaimana disadari oleh Tuhan itu sendiri, yaitu tidak akan pernah berubah, atau biasa dikenal dengan kealamiahan yang abadi, itulah yang disebut sebagai Hukum Abadi. Sedari awal, bahkan ketika membahas tentang Hukum Tuhan, Aquinas menitikberatkan pada aspek keunggulan akal meskipun yang dimaksud adalah Akal Tuhan. Penekanan terhadap akal ini bahkan terus dilakukannya dalam pembahasannya tentang jenis hukum yang lain.



Hukum Alam Secara Umum
Hukum alam dikenalkan dalam pertanyaan 91 poin a2:
“Semua hal mengambil bagian dalam cara tertentu dengan hukum abadi, dari hukum abadi yang ditanamkan pada mereka itu, mereka masing-masing memperoleh kecenderungannya terhadap masing-masing perilaku dan tujuan akhir mereka. Sekarang, diantara semuanya, makhluk rasional merupakan persoalan pemeliharaan Tuhan dalam jalur yang lebih unggul, sebagaimana ia merupakan bagian dari sebuah pembagian pemeliharaan [a share of providence], ia hemat-cermat dalam memelihara dirinya sendiri dan yang lainnya. Bagaimana bisa ia merupakan pembagian dari akal abadi, yaitu melalui adanya sebuah kecenderungan alami untuk membentuk tindakan dan tujuan akhirnya, dan partisipasi hukum abadi ini dalam makhluk berakal yang dinamakan hukum alam.”
Aquinas memahami makhluk, berdasarkan bagaimana ia diatur oleh sebab akhir, atau tujuan akhir yang secara alami mereka cari. Tujuan akhir inilah yang ditanamkan oleh Pencipta dalam diri mereka. Kebanyakan makhluk, secara aktif mencari tujuan akhir yang hakiki melalui instingnya. Meskipun manusia juga memiliki dan mengetahui tujuan hidup yang hakiki, kita tidak selamanya berlaku sebagaimana yang seharusnya. Seringkali kita tekun melakukan perlawanan atas alam dan hukum alam disebabkan nafsu kita. Ketika akal menguasai jiwa manusia saja, kita memilih apa yang sesuai dengan alam.
Prinsip Otoritas Hukum Alam
Akal manusia berkemampuan untuk memahami secara pasti prinsip-prinsip umum yang ditanamkan dalam kealamiahan manusia. Prinsip pertama dalam hukum alam adlaah “Kebaikan harus dilakukan dan dikejar, dan kejahatan / evil harus dihindari” [q94, a2]. Prinsip otoritas yang lain bersandarkan pada prinsip tersebut. Apa yang dimaksudkan oleh Aquinas adalah bahwa beberapa prinsip otoritas hukum alam merupakan spesifikasi dari prinsip ini [yang sebenarnya sangat-sangat abstrak –pen.]. Prinsip yang lain antara lain :
“Apapun itu, yang menjadi sebuah cara untuk melindungi kehidupan manusia dan untuk menghindari rintangan yang ada, merupakan hukum alam”; dengan kata lain, sebuah justifikasi yang bagus untuk sebuah aturan moral atau legal adalah yang menganjurkan pada perlindungan atas kehidupan manusia. Dibelakang ini semua adalah adanya fakta bahwa setiap makhluk hidup memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri. [sebagaimana Aristoteles pernah memahaminya sebagai kecakapan gizi dari jiwa / the nutritive faculty of the soul];
“Hubungan seksual, pendidikan atas keturunan, ” dan kehidupan memiliki tempat yang pas dalam kehidupan manusia, sebagaimana kehidupan hewaniah [Aristoteles memahaminya sebagai kecakapan kepekaan / kehalusan perasaan / the sensitive faculty]
Berkenaan dengan kepemilikan manusia atas akal yang ganjil, manusia memiliki kewajiban untuk “menghindari pengabaian / ignorance” [dan harus mencari tahu tentang Tuhan] dan harus menghindari melakukan gangguan atas makhluk lain yang berhak untuk hidup [Aristoteles memahaminya sebagai kecakapan akal yang unik / uniquely rational faculty]
Aquinas tidak pernah memberikan daftar prinsip-prinsip yang lengkap dan mendalam.
Memahami Hukum Alam – Synderesis
Untuk memahami prinsip-prinsip hukum alam, diperlukan sebuah kapasitas khusus yang disebut dengan synderesis. Ia merupakan kebiasaan intelektual alamiah, dalam satu pengertian ia merupakan kebiasaan akan tetapi bukanlah merupakan pengertian yang utama.
Ia disebut alamiah karena seluruh homo sapiens, dilahirkan dengan synderesis itu. Ia juga disebut intelektual sebab ia memungkinkan kita untuk memahami prinsip-prinsip.
Sebagai sesuatu yang ditemukan dalam jiwa dan menjadi pondasi untuk memahami prinsip-prinsip, ia lebih tepat disebut sebagai kapasitas [power] atau sebuah kebiasaan [habit]. Akan tetapi sebuah kapasitas dapat digunakan dan diarahkan menuju kebaikan dan keburukan, sedangkan synderesis diorientasikan untuk kebaikan saja. Jadi ia bukan sekedar kapasitas, tetapi juga sebuah kebiasaan.
Kebiasaan, atau habitus adalah cara Aristotelian Latin untuk mengekspresikan apa yang disebut oleh Aristoteles sebagai sebuah hexis [kondisi tetap atau watak / state or disposition]. Sebuah kebiasaan adalah sebuah tindakan pertama dari jiwa, yang dapat diaktualisasikan pada tindakan kedua; tindakan kedua inilah yang dikenal sebagai tindakan kata hati[10] [conscience acts]. Kata hati ini sangatlah berkaitan dengan synderesis, untuk kemudian didefinisikan sebagai tindakan berfikir atas apa yang telah kita ketahui [tindakan kedua], dan apa yang ditujukan pada pengetahuan yang kita punyai, akan tetapi ia tidak selalu aktif pada setiap waktu [tindakan pertama]. Kita tidak selalu mengalami kata hati, tetapi setiap manusia memiliki kapasitas yang disebut synderesis.
Akan tetapi, Aquinas menolak jika synderesis dikatakan sebagai sebuah kebiasaan dalam keseluruhan pengertiannya [q94, a1], yakni sebuah kebiasaan moral. Ia kemudian menukil Augustine, yang mengatakan “sebuah kebiasaan adalah suatu jalan dimana ‘sesuatu’ dilakukan ketika dibutuhkan”. Oleh karenanya kebajikan moral juga disebut sebagai kebiasaan. Orang yang berani, tidak akan memamerkan keberaniannya setiap waktu, sebab tidak seluruh tindakan memerlukan keberanian, akan tetapi manakala dibutuhkan, ia akan melakukan tindakan paling berani.
Dan tidak seperti kebanyakan kondisi dapat kita kenali sebagai kebiasaan, synderesis tidak dapat dicapai tetapi ia merupakan pembawaan, atau Aquinas menyebutnya sebagai ‘natural’.
Jadi, synderesis bukanlah sebuah kebiasaan semata sebagaimana dijabarkan oleh Augustine, sebab ia telah di tunggangi oleh nafsu, sebagaimana bayi atau manusia yang tak berdaya.
Istilah synderesis memiliki penampilan selayaknya istilah dari Yunani. Akan tetapi ia tidak didapai dalam karya Aristoteles, atau karya klasik Yunani apapun yang dekat dengan masanya. Saya tidak benar-benar memahami filologi, akan tetapi kebanyakan literatur juga mengatakan bahwa synderesis sangatlah identik dengan Thomisme. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Aquinas sendirilah yang membuat istilah ini.
Synderesis tidak boleh disamakan dengan kebijaksanaan / kehati-hatian [prudence / forethough / having good sense], sebab Aquinas telah menggunakan istilah ini untuk menyamakan pandangan dengan Aristoteles mengenai phronesis, atau kebijakan praktis. Seseorang dengan kebijakan intelektual praktis akan membutuhkan kepemilikan atas kebijakan moral sehingga memunculkan pilihan moral yang baik. Aquinas dan Aristoteles sepakat dalam hal tersebut. Akan tetapi seseorang dikatakan memiliki synderesis manakala ia memahami prinsip-prinsip hukum alam, meskipun kemudian tidak bertindak berdasarkan hal itu. Synderesis, yang dimiliki seluruh manusia, tidaklah menunjukkan adanya kebijakan moral maupun kebijakan praktis.








Hukum Manusia
Filsafat Thomas Aquinas, sebagaimana kita ketahui bersama sangatlah berhutang banyak pada Aristoteles, diselimuti oleh pengertian-pengertian teleologis [studi mengenai sebab utama dalam alam]. Dan dalam pemikiran ini, yang sangat penting untuk didiskusikan adalah hukum manusia. Mungkin kita akan berfikiran bahwa hukum alam akan didefinisikan oleh Aquinas sebagaimana hukum yang kita kenal sekarang ini, hukum positif, dimana hukum diundangkan dan diterapkan dengan kekuatan dalam komunitas manusia. Tetapi dalam faktanya, hukum manusia yang kemudian disebut sebagai hukum positif merupakan hukum yang seharusnya yang tertulis dan seharusnya diundangkan. Hukum semacam itu, yang menyatakan apa yang seharusnya, menurut Thomas, bukan merupakan hukum yang sesungguhnya [q95, a2][11].
Definisi Aquinas mengenai hukum manusia sangatlah bergantung pada konsep hukum alam yang akan kita bahas nanti. Thomas berpendapat bahwa hukum manusia adalah hukum-hukum yang dipikirkan dan direncanakan oleh akal manusia [q1, a3], yang diadaptasi dari kondisi geografis, sejarah dan sosial yang khusus.
Hukum, sebagaimana telah dinyatakan diatas diarahkan kepada kebaikan bersama, dan begitu juga dengan hukum manusia. Kemajuan kebajikan [Promotion of Virtue] sangatlah dibutuhkan bagi kebaikan bersama, dan hukum manusia adalah alat-alat yang digunakan untuk memajukan kebajikan. Aristoteles sebelumnya telah menunjukkan bahwa kebanyakan rakyat terjaga dari kriminalitas disebabkan ketakutannya atas hukum. Aquinas menerima pendapat ini, dan menganjurkan bahwa melalui koersi, manusia yang paling jahat sekalipun dapat dikalahkan dan diarahkan melalui kebajikan.
Dengan memperhatikan pendapat Aristoteles, Aquinas menunjukkan arti penting hukum. Dikarenakan :
[1] Sangat mudah untuk mencari beberapa orang yang bijak yang dapat membuat hukum yang baik, daripada mencari banyak orang, dan dengan kondisi tanpa hukum, menghukumi dengan benar setiap perkara.
[2] Para pembuat hukum, harus berhati-hati dan diberi waktu yang cukup lama sebelum membuat sebuah hukum, sementara dalam waktu itu akan muncul banyak kasus khusus yang harus dan dapat dihukumi dengan cepat.
[3] Para pembuat hukum memberi hukuman secara abstrak sehingga kecil kemungkinan untuk digoyangkan oleh emosi yang ditimbulkan oleh kondisi yang konkrit atau oleh apapun yang mengarah pada korupsi. Perlawanan terhadap hukum tidak akan banyak membahayakan, ketika diformulasikan secara umum, ketimbang perlawanan atas hukuman [judgment] dalam kasus tertentu, dimana tidak ada hukum yang akan memandu hukuman [q95, a1].
Meskipun hukum itu dibentuk secara umum, hukum tersebut masih harus beradaptasi dengan kealamiahan komunitas, yang tidak selalu sama di tempat yang lain, dan tidak sama dalam kelas-kelas individu-individu yang membentuk masyarakat. Sebagai contoh, mungkin ada satu perangkat hukum yang mengatur tata laksana perdagangan, perangkat hukum yang lain mengatur kontrol atas tindakan orang tua terhadap anaknya, perangkat hukum yang lain mengatur letak batasan penggunaan kekuatan pada perangkat kepolisian.
Dengan kata lain, akan didapati perbedaan hukum bagi macam warga negara yang berbeda, yang memiliki fungsi berbeda dalam komunitasnya. Akan tetapi hukum tetap dianggap dalam keumumannya terhadap 2 kondisi. Semua hukum alam bermanfaat, atas nama hukum itu sendiri, disebabkan ia diarahkan kepada kebaikan bersama. Dan sama pada hukum-hukum yang spesifik, katakanlah bagi para pedagang, adalah dianggap dalam keumumannya manakala ia digunakan untuk lebih dari satu macam kasus [q96, a1]
Hukum manusia menurut Aquinas, tidak digunakan untuk menekan semua kejahatan. Ia dibingkai bagi kebanyakan rakyat, yang jauh dari kebijakan yang sempurna. Ia ditujukan bagi kejahatan yang sangat menyedihkan semisal pembunuhan, penculikan dan perampokan, dan semacamnya. Ketika hukum ditujukan dalam kerangka legislasi yang sempurna, itu akan menyebabkan rakyat memusuhi hukum dan menyalahi tujuan utamanya [q96, a2]. Tentu saja ini tidak dapat dilepaskan dari doktrin gereja tentang dosa asal, dimana manusia itu sebenarnya baik, tetapi memiliki warisan untuk berbuat buruk.
Dengan alasan yang sama, hukum tidak menjadikan seluruh perbuatan kebajikan tertulis sebagai hukum / prescribe [tidak menentukan semua yang disebut baik dan buruk –pen.]. Tapi ia menuliskan ketentuan beberapa tindakan yang berhubungan dengan tiap kebajikan. Sebagai contoh, beberapa tindakan seorang yang adil akan dituliskan ; dan beberapa tindakan seorang temperamen akan dituliskan pula [q96, a3]
Tiap tiap orang adalah subyek dari hukum manusia dan diharuskan mematuhi hukum manusia, itulah sebenar-benarnya hukum manusia. Akan tetapi penguasa [yang bertanggung jawab untuk menyatakan dan menegakkan hukum] berada dalam posisi spesial. Biasanya, ia berkewajiban untuk mematuhi hukum yang ia nyatakan sendiri. Tetapi tidak ada seorang pun yang berada di atasnya untuk menghukuminya dalam kehidupan ini. Akan tetapi, ia tidak dapat dikecualikan, semenjak ia akan dihukumi sendiri oleh Tuhan [q96, a5].
Thomas menyadari ketika dibolehkannya pelanggaran atas hukum yang tertulis [q96, a6]. Ia menyadari bahwa disebabkan keumuman dan kealamiahan itu juga, hukum membutuhkan perkcualian / eksepsi. Dalam kebanyakan kasus, hal ini dapat dilakukan hanya melalui persetujuan otoritas politik, akan tetapi bahkan ada eksepsi lain bagi aturan ini, yakni ketika kebaikan bersama berada dalam kondisi bahaya yang tidak biasanya.
Hukum manusia dapat berubah, menurut Aquinas, disebabkan menurut pengalaman yang ada, yaitu dalam konteks permasalahan praktis, membolehkan kita untuk mengimprovisasinya. [q97, a1] Hal ini sangatlah menarik untuk dibahas, sebab, ketika ia mendengungkan ayat-ayat dari Aristoteles, ia pun memberikan isyarat bahwa ide-ide tentang perkembangan dan kemajuan di bidang moral dan politik akan menjadi sangat berpengaruh di waktu yang akan datang, yaitu semenjak abad 17 dan 18 Masehi. Masa Pencerahan.
Aristoteles memahami bahwa akan didapati perkembangan dalam seni dan filsafat, akan tetapi ia juga melihat sejarah sebagai sebuah siklus. Ia telah mengantisipasi bahwa malapetaka sosial akan terjadi dalam konteks budaya, dan juga kemajuan di bidang teknik juga akan hilang, meski mereka mungkin dapat dikembalikan pada masa siklus selanjutnya. Thomas, sebaliknya malah melihat sejarah sebagai sebuah garis linear, yang sangat berhubungan dengan ide Kristen bahwa hanya akan ada satu kisah besar [Big Story] dan setiap kejadian dalam diri manusia akan memiliki tempat yang khusus dalam kisah itu.
Hukum manusia dapat dirubah, dan hal tersebut akan jarang dilakukan. Manakala perubahan tersebut akan dilakukan, hendaknya bukan perubahan yang minor / lightly. Alasannya adalah bahwa penghormatan teratas hukum sebagian besar merupakan permasalahan adat dan kebiasaan, dan perubahan sering dilakukan dan perubahan yang tidak esensial akan meruntuhkan adat ini. Kebaikan bersama tidaklah disediakan oleh hukum yang baik, dan yang senantiasa diperbaiki, terutama secara teoritis, manakala rakyat kurang menghormati hukum dan mengikuti hukum tersebut tanpa iman [q97, a2].











Hubungan Hukum Alam dan Hukum Manusia
Untuk mendefinisikan hukum manusia, seorang Thomis [penganut Thomisme / pemikiran Thomas Aquinas], harus merujuk pada hukum alam. Thomas mengatakan bahwa hukum alam dibentuk berdasarkan presepsi atas hukum alam, dari keumumannya dan dari prinsip-prinsip alamiah yang tidak dapat didemonstrasikan. Dan bahwa akal manusia perlu untuk memproses kepastian determinasi hukum yang khusus. Determinasi khusus, yang dipikirkan dan direnakan manusia inilah yang disebut dengan hukum manusia [q91, a3].
Hukum alam adalah hukum yang berisikan konten moral, lebih umum ketimbang hukum manusia. Hukum alam berkaitan dengan kebutuhan ketimbang dengan faktor-faktor yang berubah [variable things]. Dalam memikirkan hukum manusia, akal praktis manusia akan berpindah dari prinsip-prinsip yang umum yang teraplikasikan dalam hukum alam, pada kesatuan perintah-perintah dalam hukum manusia.
Hukum alam dianggap lebih sempurna ketimbang hukum manusia, sebab bermacam-macamnya permasalahan / topik yang ada dalam hukum manusia [variable subject-mater of human laws].
Hukum alam kurang spesifik ketimbang hukum manusia, akan tetapi hukum manusia merupakan aplikasi dari hukum alam dan tidak dapat menyimpang dari apa yang kita kenal sebagai the spirit of the natural law, sebagaimana ia telah diterapkan dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat dalam bingkai promulgasi hukum manusia. Jika hukum manusia menyimpang dari jalan ini, jika ia tidak dapat dipertahankan sebagai aplikasi hukum alam baik secara proporsional maupun rasional, maka ia adalah penyimpangan terhadap hukum itu sendiri, atau kita kenal sebagai sesuatu yang bernama hukum saja [q95, a2].
Hukum alam berpegang teguh bahwa secara umum, kehidupan manusia harus dilindungi dan langkah-langkah harus diamil untuk melindunginya. Hukum yang mengatur lalu lintas kendaraan bermotor, sebagaimana hukum yang lain, mencoba melindungi kesehatan dan kehidupan manusia, sebagai penerapan yang lebih spesifik pada era kendaraan bermotor. Spesifikasi lebih lanjut, dikodifikasikan dalam hukum manusia, sebagai contoh, di Indonesia, kita menyetir mobil dengan setir kanan, sedangkan kebanyakan di Eropa, mobil disetir dengan setir kiri. Pada tingkat ini, hukum manusia adalah sekedar permasalhan adat saja. Hukum manusia di satu tempat berbeda dari hukum manusia di tempat yang lain, akan tetapi mereka tetaplah hukum, dan tidaklah berlawanan dengan hukum, sebab mereka memiliki akhir kata yang sama, sebagaimana terangkum dalam hukum alam, yang sesungguhnya merupakan ekspresi dari hukum abadi.



























Hukum Tuhan
Hukum Tuhan merupakan derivat dari hukum abadi, sebagaimana ia muncul dalam sejarah manusia, terutama melalui pewahyuan, yaitu ketika ia muncul dalam umat manusia sebagai perintah wahyu [divine commands]. Hukum Tuhan terbagi dalam Hukum Lama dan Hukum Baru [q91, a5]. Lama dan Baru ini secara kasat mata dihubungkan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Injil [Old and New Testaments of the Bible]. Ketika Aquinas membicarakan Hukum Lama, Thomas memfokuskan diri pada 10 Perintah Tuhan [the Ten Commandments]. Ketika ia membicarakan Hukum Baru, ia memfokuskan diri pada ajaran Yesus.
Hukum Lama è memberikan perintah secara eksternal è dapat dipahami manusia melalui kapasitas perintah tersebut dalam menciptakan ketakutan è Menjanjikan ganjaran duniawi [kedamaian sosial dan berbagai keuntungannya]
Hukum Baru è memberikan perintah secara internal è dapat dipahami manusia melalui cinta dan kasih Tuhan è Menjanjikan ganjaran akhirat











Kesimpulan
Di tangan Aquinas, akal mendapatkan peran penting dalam kompetensinya untuk melegislasikan hukum dalam masalah-masalah duniawi. Ini merupakan keunggulan filosofis dari aliran pemikiran Thomisme dan merupakan alasan mengapa ia menerima dukungan dan pengikut hingga saat ini. Sebab ia berhasil menyatukan pandangan Kristiani ortodoks yang sepenuhnya menekankan pada keimanan dan wahyu Ilahi dengan humanisme duniawi Yunani Klasik, dimana manusia dan akalnya menjadi tolok ukur segala sesuatu. Secara khusus, Aquinas dengan filsafatnya mampu membawa pengaruh pemikiran Aristotelian ke dalam ajaran Kristiani dan penitikberatannya pada akal manusia dengan cara yang hebat dan menakjubkan. Di bawah kendali Aquinas, Injil dan paganisme Yunani, dapat berjalan bergandengan tangan dan memberikan solusi bagi seluruh problematika manusia di dunia dan kehidupan setelah mati [terlepas dari konsep kebenaran agama].
Inilah warisan Aquinas, dan para pengagumnya menghujani ia dengan ebragam sanjungan dan, “tepat ketika dibutuhkan, datanglah sebuah sistem filsafat yang menyatukan dunia fisik dan spiritual secara harmonis... dan menyatakan keagungan dan kekuatan disipliner akal manusia” [Reverend M.C.D’Arcy, Thomas Aquinas, London: Ernest Bess Ltd, 1930 hal. 31; dalam Abdullah, Who Is the Legislator ?, London : Khilafah Publication, 2003 hal. 37]








Daftar Bacaan
Buku-Buku
Abdullah.2003. Siapakah Yang Layak Sebagai Pembuat Hukum?. Bogor : Pustaka Thoriqul Izzah.–pent. M. Ramdhan Adhi.
Abdullah.2003. Who Is the Legislator?. London : Khilafah Publication.
Adams, Ian.2004. Ideologi Politik Mutakhir. Yogyakarta : CV. Qalam.
Gardner, Jostein.2004. Dunia Sophie. Bandung : PT. Mizan Pustaka
Schall, James V. S.J.1993. Political Philosophy : Remarks on its Relation to Metaphysics and Theology. Rome : Angelicum LXX.
Schall, James V. S. J.November 1995. The Right Order of Polity and Economy. Jurnal Cultural Dynamics, Tahun V. Edisi 7.
Schall, James V. S. J.Musim Semi 1997. The Uniqueness of the Political Philosophy of Thomas Aquinas. Jurnal Perspectives in Political Science Edisi 26.
Soetiksno, Mr.2003. Filsafat Hukum I. Jakarta : PT. Pradnya Paramita.
Rawls, John.1971. A Theory of Justice. Oxford: Oxford University Press

Situs Internet
http://caae.phil.cmu.edu/Cavalier/80130/part1/sect3/Aquinas.html
http://cuapress.cua.edu/viewbook.cfm?Book=GOTAhttp://nov55.com/rel/tthom.html
http://www.fordham.edu/halsall/source/aquinas2.html
http://www.island-of-freedom.com/AQUINAS.HTM
http://www.morec.com/schall/aquinas.htm
http://www.morec.com/schall/articles/studbefa.htm
http://www.vatican.va/spirit/documents/spirit_20010116_thomas-aquinas_en.html
http://www.willamette.edu/~blong/Jurisprudence/Aquinas.html
http://www.wku.edu/~jan.garrett/302/aquinlaw.htm
[1] Semenjak abad ke 13, Karya Filsafat Yunani menggebrak Eropa setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Latin ini didapat bukan dengan menterjemahkan bahasa asli Yunani [Greek], tetapi dari bahasa Arab, dimana karya-karya Arab tersebut menterjemahkan bahasa Yunani dengan sangat bagus sekali, bahkan disertai komentar-komentar dari pemikiran Islam dan Filsafat Muslim [untuk tidak menyebut Filsafat Islam [perlu diketahui juga bahwa dalam Islam tidak dikenal cabang pemikiran ‘Filsafat ‘/ Ilmu Kalam Islam], sebab pencetusnya oleh kebanyakan cendekiawan Islam dihukumi sebagai keluar dari Islam / murtad, dengan diterbitkannya pemikiran-pemikiran mereka yang menyimpang dari pakem Islam yang selama ini ada dan dipertahankan, tapi tulisan ini tidak akan membahas permasalahan tersebut.]
[2] Format kutipan pun akan terlihat aneh. Contohnya [q90, a1], yang berarti, pertanyaan nomor 90, artikel /pasal satu.
[3] Lihat James V. Schall, "The Best Form of Government," The Review of Politics, 40 (January, 1978), 97-123. Ada dalam James V. Schall, “Political Philosophy : Remarks on its Relation to Metaphysics and Theology” Angelicum, (Rome), LXX (1993), 487-503.
[4] Menurut Santo Augustine, ada dua bentuk negara, yaitu Negara Tuhan [Inggris : City of God atau Heavenly City; Latin : Civitate Dei] dan Negara Iblis atau Negara Duniawi [Inggris : City of Man atau Earthly City; Latin : Civitate Terrena atau Civitate Diaboli]. Negara Tuhan didasarkan pada cinta kasih Tuhan sehingga penuh dengan kasih sayang dan perdamaian. Negara Duniawi didasarkan pada cinta diri, sehingga penuh dengan kasih sayang dan perdamaian. Negara Duniawi didasarkan pada cinta diri, sehingga penuh dengan ambisi hedonistik dan materialistik. Negara Tuhan ditandai oleh iman, ketaatan, dan kasih Tuhan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas terpuji. Negara Duniawi merupakan manifestasi dari kebohongan, pengumbaran hawa nafsu, ketidakadilan, pengkhianatan, kebejatan moral, kemaksiatan, dan hal-hal jelek yang lain.
[5] William P. Baumgarth dan Richard J. Regan, S. J., "Introduction," Saint Thomas Aquinas: On Law, Morality, and Politics (Indianapolis: Hackett, 1988), hal. xiv. Lihat juga Ernest L. Fortin, Political Idealism and Christianity in the Thought of St. Augustine (Villanova, PA.: Villanova University Press, 1972).
[6] James V. Schall, "St. Augustine and Christian Political Theory," The Politics of Heaven and Hell: Christian Themes from Classical, Medieval, and Modern Political Philosophy (Lanham, MD.: University Press of America, 1984), hal. 39-66. Lihat juga Charles N. R. McCoy, "St. Augustine," dalam History of Political Philosophy, Editor Leo Strauss dan Joseph Cropsey (Chicago: Rand-McNally, 1963), hal. 151-59
[7] Aquinas menganggap bahwa Filsafat adalah pembantu bagi Teologi [handmaiden of theology]. Dan yang menarik adalah, bahwa Aquinas tidak menganggap bahwa politik adalah hal yang penting dalam kehidupan / hubungan antar manusia, tetapi justru hukum. Ketika Aquinas melihat politik sebagai power, maka ia selalu menghubung-hubungkannya dengan Power of God. Memang, sejarah filsafat politik yang ada, merupakan perpanjangan tangan dari teologi. Akan tetapi ia tetap menekankan bahwa untuk menegakkan hukum ini, diperlukan otoritas politik, sebab seluruh otoritas politik terafiliasikan dengan power yang tentu saja bersifat koersif. [James V. Schall, S. J. “The Uniqueness of the Political Philosophy of Thomas Aquinas”. Perspectives in Political Science, 26 (Spring, 1997), 85-91.]
[8] www.lonang.com
[9] www.nov55.com/rel/tthom.html . Situs Moral Kristiani. Sayangnya, kritik ini tidak akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini, sebab kebanyakan ummat Kristiani telah menerima Teologi Aquinas ini, terutama kaum holistik [non secular] –akan tetapi banyak juga kaum sekuler yang sepakat dengannya, meski jelas sekali, bahwa munculnya Aquinas adalah disebabkan kepincangan Injil sendiri, yang memang tidak mengajarkan masalah politik / pengurusan masyarakat.
[10] Kritik yang kemudian muncul adalah, bahwa Injil telah menyatakan, ajaran Yesus yang ada merupakan jalan yang sulit [Matius 7:13,14] yang mengalahkan kekuatan dosa dalam pikiran. Kesulitan tersebut antara lain kemiskinan [Lukas 18:22] dan permasalahan kebutuhan hidup [Matius 25:31-46 dan Lukas 10:30]. Manakala, Kristen adalah jalan yang susah untuk dicari dan diikuti, dan Yesus harus turun ke Bumi untuk mengajarkannya secara langsung, maka hati nurani tidak akan berbuat apa-apa untuk mendapatkan esensi ajaran Kristen.
[11] Hal ini sebenarnya tergantung bagaimana kita mendefiniskan hukum positif itu sendiri. Ketika Hukum Positif didefinisikan sebagai sekedar hukum yang dibuat, dan diterapkan oleh manusia, maka Hukum Manusia yang dimaksud Aquinas adalah hukum positif, sebagaimana Abdullah [2003, hal.27] mencoba memahaminya.




Revolt Tu Butuh Konsep dan Keyakinan terhadapnya
Konsep Tu Berupa Ide dan Metode
Ide Tu ISLAM
Metode Tu Perjuangan Politik dan Pemikiran
Yang Mencerdaskan dan Memahamkan
Tanpa Kekerasan!!! Titik!!!

1 Comments:

At 6:39 AM, Anonymous Anonymous said...

Can somebody pls tell me what the "dengan ebragam" part of this phrase is?
Thanks-- gerrymail04@yahoo.co.uk
--------------------
Kesimpulandan :Inilah warisan Aquinas, dan para pengagumnya menghujani ia DENGAM EBRAGAM sanjungan dan, “tepat ketika dibutuhkan, datanglah sebuah sistem filsafat yang menyatukan dunia fisik dan spiritual secara harmonis...]

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home